Saturday, June 4, 2011

Solat Luar Biasa Vs Biasa Bersolat


Bismillahirahmanirahim...

Assalamualaikum wbt.. (sedikit perkongsian dari Kak Iza Cyg...)

Berapakali kita pernah cuba untuk benar-benar menghadirkan HATI kita mengadap Allah SWT ketika solat sehinggakan kita merasakan MANISnya 'pertemuan' hati kita dengan Allah SWT.

Tentunya solat itu benar-benar meng'INSAF'kan kita tentang hakikat 'kekerdilan' diri kita berdepan dengan KEAGUNGAN Allah SWT. Tentunya kita merasa terhina dan malu untuk 'melanggar' larangan serta 'mengabaikan' perintahNya.

SAYANGnya, kebanyakan solat kita (saya sendiri) berlaku secara rutin. Diri kita seolah-olah robot yang secara automatik akan menjalankan tugas seperti yang diprogramkan. HATI kita hanya mampu merasakan solat sebagai 'ibadah biasa' yang wajib dilaksanakan.Astaghfirullahal'aziim...

Bukankah ketika Rasulullah SAW menerima bebanan DAKWAH yang begitu berat dan berdepan dengan TENTANGAN yang begitu 'hebat', Rasulullah SAW menjadikan SOLAT sebagai sumber KEKUATAN rohaninya. Bahkan sahabat-sahabatpun, yang diseksa dengan seksaan yang begitu hebat namun masih mampu mempertahankan IMAN mereka dan bagaimana dibina kekuatan diri yang begitu 'dahsyat'?. Jawapannya SOLAT.Subhanallah...

Mungkin harus timbul pertanyaan pada diri kita adakah solat kita seperti solat mereka sehinggakan kita memperolehi kekuatan yang LUAR BIASA seperti mereka???? Atau mungkin kita boleh ringkaskan soalannya kepada begini: Adakah iman kita 'hebat' seperti mereka?

Saya rasa jawapan anda semua hampir sama seperti saya. TERLALU JAUH BEZANYA bahkan kita selalu hanya MAMPU kagum dengan keperibadian mereka.

Mungkin juga, kita perlu tanyakan diri kita; Adakah cukup untuk jiwa kita terhenti pada KEKAGUMAN terhadap mereka? Adakah untuk KAGUM sebegitu sirah perjuangan mereka dipelihara dan dibaca?

Bayangkan solat kita seperti yang disarankan oleh Imam Al Ghazali (bukan matan kitab; Saya sebutkan berdasarkan pemahaman dan penghayatan); Kita mulakan dengan wudhu' yang sempurna. Ketika membasuh muka, kita bermunajat memohon ampun dosa-dosa mulut dan mata kita. Sambil membayangkan betapa besarnya nikmat yang Allah berikan itu dan betapa banyaknya salah guna kita dalam mensyukuri nikmatNya itu. Betapa kita lupa bersyukur dan betapa kita kufur(engkar) padaNya. Begitu juga dengan anggota wudhu' yang lain, sambil kita membasuhnya kita BERMUHASABAH diri dan MEMOHON keampunanNya.

Kita bangun untuk solat. Ketika kita takbiratul ihram; Kita lalu meninggalkan segala urusan DUNIA yang remeh temeh. Hati kita tertunduk 'malu' dan sedar betapa kita sedang 'berdepan' dengan Yang Maha Kuasa. Allah yang maha Melihat bahkan mengetahui 'bima fisshudur' (apa yang ada di dalam hati kita).

Ketika kita Qiam, kita terasa seolah-olah berada di padang Mahsyar. Terbayang difikiran kita tentang jeritan2 manusia, mataharinya sebatu diatas kepala dan manusia tenggelam dan kelemasan dalam peluh mereka masing-masing.

Kitapun membacakan al FATIHAH, betapa kita tersentuh kalimah-kalimah memuji Allah SWT, kita terasa semakin kerdil. Kita terhenti ketika menyebut 'Maliki yaumiddin', jiwa kita tidak lagi mampu bertahan, terbayangkan banyaknya dosa-dosa kita, terbayangkan kitab amalan yang akan terbang mencari tuannya, terbayang wajah-wajah yang Allah gambarkan di dalam al Quran; wajah-wajah putih dan wajah-wajah yang hitam (Ali Imran), wajah yang berseri-seri dan wajah yang bermuram durja (Al Qiyamah).

Terbayang kita wajah-wajah yang tertunduk dan tidak mampu mendongakkan kepalanya (As Sajdah) dan wajah-wajah yang ketakutan dengan seribu penyesalan (Al Kahfi) LALU jiwa kita terhenti, lidah kita kaku. Kita mula mengukur dan menimbang amalan kita; ALANGKAH SEDIKIT. Lalu dengan penuh keinsafan kita mengucapkan Ya Allah; kepada Engkaulah kami sembah dan kepada Engkaulah kami pohon pertolongan.

Lalu kita tunduk ruku' dengan penuh kehinaan. Malunya kita pada keengkaran dan kelalaian kita. Malunya kita pada keangkuhan dan kesombongan kita.

Kita sujud dengan penuh khusyuk. Kita panjatkan doa, seolah-olah kita tidak mahu bangun.

Lalu kita duduk antara dua sujud dengan penuh kegembiraan; betapa Allah telah memilih kita untuk menjadi hambaNya. Betapa kita mensyukuri nikmat hidayahNya. Lalu kita bertasbih memuji Allah SWT.

Kita lalui saat-saat tahiyyat akhir dengan tersimpuh penuh KERINDUAN. Betapa selepas ini kita akan kembali lalai. Jiwa kita dipenuhi rasa rindu dan terasa berat untuk memberi SALAM PERPISAHAN. Terbayang kita kalau-kalau inilah saat 'terakhir' kita.

Bayangkan jika inilah solat kita setiap hari dan setiap waktu. Iman yang bagaimana kita akan miliki? Perjuangan bagaimana yang akan kita tempuhi untuk mempertahankannya?

InsyaAllah...

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...